Senin, 24 Maret 2014

Social History

     Setiap orang mempunyai cerita masing-masing yang telah dialami dalam hidupnya, tidak semua orang memiliki cerita yang sama dan pengalaman yang sama. Dalam kasus klien khususnya di bidang psikologi  tentunya terdapat background history yang dialami oleh klien. Dalam sesi interview sebagai psikolog juga harus memperhatikan kliennya dalam bidang social history yang dimiliki oleh klien tersebut. Social history merupakan konteks dimana klien dan memperkenalkan asal masalah mereka untuk dikembangkan, terkadang lebih dari satu sesi untuk mendapatkan penilaian data klien. Terdapat 12 area dalam social history, yaitu:
1.    Family History: dimana dalam area ini background keluarga dan pola komunikasi hubungan dengan orangtua dapat mempengaruhi pada kehidupan seseorang
2.    Educational History: dimana prestasi disekolah berhubungan juga dengan keberhasilan seseorang dalam membentuk persahabatan untuk dikemudian hari, dan kurangnya hubungan sosial dapat mempengaruhi keterampilan dasar sosial.
3.    Occupational Training / Job History: menanyakan kepada klien dengan menggunakan kalimat “apa kesibukan anda setiap hari?” jangan menggunakan kalimat : apa pekerjaan anda saat ini. Karena akan membuat klien menjadi tidak nyaman.
4.    Marital History: menanyakan kepada klien apakah sudah menikah, status pernikahan dan sudah berapa kali menikah
5.    Interpersonal Relationship: menanyakan kepada klien siapakah orang yang paling dekat dan dapat dipercaya
6.    Recreational Preference: menanyakan bagaimana cara klien mendapatkan kesenangan, kegiatan apa saja yang biasanya paling senang dilakukan untuk mengurangi kejenuhan.
7.    Sexual History: merupakan topik yang paling sensitif dalam sesi wawancara
8.    Medical History: menanyakan riwayat penyakit pada klien, apakah pernah rawat inap, operasi, dll.
9.    Psychiatric / Psychotherapy History
10.  Legal History: menanyakan kepada klien apakah klien pernah melakukan pertemuan yang berhubungan dengan hukum?
11.  Alcohol and Subtance Use / Abuse: menanyakan apakah klien mengkonsumsi alkohol
12.  Nicotine and or Caffeine Consumption: menanyakan apakah klien sering mengkonsumsi kafein dan nikotin

Selasa, 18 Maret 2014

basic of interview

Wawancara merupakan suatu kegiatan yang dilakukan antara dua orang. Wawancara memiliki banyak sekali manfaatnya khususnya dalam bidang psikologi. Untuk menjadi seorang pewawancara yang baik disini terdapat beberapa keterampilan dasar dalam wawancara: (1) kemampuan membina rapport. Keterampilan ini merupakan tahapan awal dalam setiap wawancara, karena dengan membina rapport yang baik akan tercipta suasana dan hubungan yang baik dengan klien. Contohnya psikolog memberikan senyuman dan sambutan yang bersahabat kepada klien. (2) Empati. Dengan memiliki rasa empati sebagai psikolog dapat mengerti apa yang sedang dirasakan oleh klien, dapat juga menerima keadaan klien. (3) Attending Behavior. Dalam skill ini kunci nya ialah mengurangi kuantitas bicara dan memberikan klien untuk menceritakan tentang diri mereka. Sebagai psikolog disini harus menjadi pendengar yang baik. (4) Questioning Technique. Dalam skill tehnik bertanya terbagi dua yaitu: open question dan closed question. Dimana open question bersifat tidak mengarahkan dan klien bebas untuk mengekspresikan perasaannya. Contoh open questions : “apa yang bisa saya bantu dari anda?”. Sedangkan closed questions bersifat mengarahkan dan jawaban dari closed question sebatas “ya” atau” tidak”. (5) Observasional Skills . Disini terbagi atas tiga fokus: (a) Perilaku Non Verbal. Mencakup ekspresi wajah, bahasa tubuh dan harus menghidari stereotype. (b) Perilaku Verbal. Mencakup sellective attention dan key words (harus memperhatikan kata-kata yang sering diulang oleh klien). (c) Konflik, Diskrapensi dan Inkongruensi. (6) Active Listening. Dalam skills ini terbagi menjadi tiga, yaitu: Encouraging, paraphasing, dan summarizing.


Itulah enam hal dasar yang harus dimiliki oleh seorang interviewer. Karena enam hal tersebut merupakan hal yang penting dimiliki agar menjadi seorang interviewer yang baik dan jika terus berlatih dalam mewawancarai seseorang agar bisa menjadi interviewer yang expert. Dan sebagai interviewer harus memperhatikan posisi duduk dengan klien juga memperhatikan memberikan jarak yang pas.

Senin, 10 Maret 2014

kesan-kesan wawancara psikolog

Wawancara merupakan salah satu alat terpenting dalam bidang psikologi. Dengan wawancara kita dapat menggali infomasi yang kita butuhkan. Wawancara sangat dibutuhkan dalam segala bidang di psikologi.  Bidang di psikologi terbagi menjadi empat sub yaitu, psikolog klinis anak, psikolog klinis dewasa, psikologi industri dan organisasi, dan bidang pendidikan. Dalam perkuliahan dua minggu terakhir kita sudah mendengarkan dan membahas wawancara dalam keempat bidang tersebut.

Pertama wawancara dalam bidang psikologi klinis anak mereka menggunakannya untuk menangani kasus-kasus yang dialami oleh anak tersebut dan biasanya untuk kasus anak, anak akan lebih sulit jika hanya di wawancarai saja, biasanya psikolog sambil melakukan observasi demi mendapatkan informasi. Dan wawancara bisa berlanjut kepada orangtua sang anak demi mendapatkan informasi yang lebih jelas. Kedua wawancara dalam bidang psikologi klinis dewasa, dalam klinis dewasa kegunaan wawancara ialah pertama untuk membina rapport, lalu wawancara digunakan demi mendapatkan data dari klien, memahami dan menggali suatu masalah yang sedang terjadi kepada sang klien. Jika wawancara belum mendapatkan hasil yang maksimal menurut psikolognya, maka biasanya psikolog tersebut memberikan sebuah tes atau assessment demi melengkapi data dari kliennya. Kebetulan kelompok kami mendapat bagian mewawancarai psikolog klinis dewasa, beliau bekerja disalah satu rumah sakit jiwa dan menurut beliau wawancara dan juga tes atau assessment sangat dibutuhkan di dalam bidang yang beliau tekuni. Dan dalam mewawancarai seseorang menurut beliau memerlukan sebuah keahlian yang harus terus dilatih demi mendapatkan informasi yang dibutuhkan secara akurat. Ketiga wawancara dalam bidang psikologi industri dan organisasi, dalam bidang PIO biasanya wawancara digunakan saat terdapat seorang pelamar pekerjaan atau bisa disebut proses recruitment.  Dalam bidang PIO wawancara pertama-pertama untuk membina rapport, disini HRD atau pewawancara dapat melihat respon dari pelamar kerja, dengan wawancara pewawancara dapat melihat kelebihan dan kekurang si pelamar kerja dari cara berbicara dan mimik wajah dari pelamar kerja tersebut. Keempat wawancara dalam bidang pendidikan, dalam bidang pendidikan biasanya digunakan  oleh para guru bimbingan konseling atau disingkat menjadi guru BK. Dalam bidang pendidikan biasanya guru BK dapat memberikan arahan kepada para siswa-siswi nya yang sedang mengalami masalah disekolahan tersebut. Dan jika masalah siswa-siswi tersebut melibatkan orangtua murid maka orangtua nya dapat di panggil ke sekolahan untuk diwawancarai dan memberitahu dari masalah anak tersebut. Atau bisa saja guru BK nya yang langsung mendatangi rumah dari murid yang bersangkutan agar masalahnya cepat kelar.